Informasi Lowongan Kerja Indonesia

Situs info lowongan kerja Indonesia dan berbagai mailing list lowongan

[lowongan] Money Game Merusak Mental Bangsa

Written by lowongan kerja on 11:59 PM

Inilah mental orang Indonesia...Mau untung besar tapi gak mau kerja keras...Kapan majunya bangsa ini.???!!!!

Money game seperti Metro Fund ini memang sangat subur di negara yang masyarakatnya bermental malas.
Tirulah bangsa JEPANG, yang sudah terbukti mereka sekarang menjadi negara maju dan MEMBERI HUTANG PADA NEGARA KITA...

10 RESEP SUKSES BANGSA JEPANG.

1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang  adalah pekerja keras.
Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450  jam/tahun,
sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika
(1957 jam/tahun),  Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis  (1680
jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan
sebuah  mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan
47 hari untuk  membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang
boleh dikatakan bisa  melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang  cepat
adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan" di Jepang,
dan  menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk "yang
tidak dibutuhkan" oleh  perusahaan.

2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun  bangsa Jepang. Harakiri
(bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi  
ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran.  
Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke
fenomena  "mengundurkan diri" bagi para pejabat
(mentri, politikus, dsb) yang terlibat  masalah korupsi atau merasa gagal
menjalankan tugasnya. Efek negatifnya  mungkin adalah anak-anak
SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya  jelek
atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih  senang
memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi
di belakangnya  dengan memotong jalur di
tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya  apabila
mereka melanggar peraturan ataupun norma
yang sudah menjadi  kesepakatan umum.

3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup  hemat dalam keseharian. Sikap anti
konsumerisme berlebihan ini nampak dalam  berbagai bidang kehidupan.
Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya  sempat
terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di  supermarket
pada sekitar jam 19:30.
Selidik punya selidik, ternyata sudah  menjadi hal yang biasa bahwa
supermarket di Jepang akan memotong harga sampai  separuhnya
pada waktu sekitar setengah jam sebelum
tutup. Seperti  diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul  20:00.

4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah  perusahaan berjalan dan tertata
dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di  Amerika dan Eropa,
sangat jarang orang Jepang yang  berpindah-pindah
pekerjaan.
Mereka biasanya bertahan di satu atau dua  perusahaan sampai
pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang  kebanyakan
hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian
mereka latih  dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core
business)  perusahaan.

5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang  mempunyai kelebihan dalam
meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya  dalam bentuk yang
diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio  Morita yang mengembangkan
Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape  tidak ditemukan oleh Sony,
patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip  Electronics. Tapi yang berhasil
mengembangkan dan membundling model portable  sebagai sebuah produk
yang booming selama puluhan tahun adalah  Akio

Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995,  tercatat
lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi  mencapai
150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda
empat juga  bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika.
Tapi ternyata  Jepang
dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan  yang
lebih cepat dan murah.

6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan  bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan
pantang menyerah. Puluhan  tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang
menutup semua akses ke luar  negeri,
Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji  (meiji ishin) datang,
bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi  fast-learner.
Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat  Jepang
menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji  besi
dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain  termasuk Indonesia .
Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak  bumi, maka 30% wilayah
Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana
terjadi  di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki ,
disusul  dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan
adanya gempa bumi besar  di Tokyo . Ternyata Jepang tidak
habis. Dalam beberapa tahun berikutnya  Jepang sudah berhasil membangun
industri otomotif dan
bahkan juga kereta  cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan
bagaimana Matsushita Konosuke  yang usahanya hancur dan hampir
tersingkir dari bisnis peralatan elektronik  di tahun 1945 masih
mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri  sehingga menjadi
kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya  menjadi
tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete
Tapenya yang  mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda
dengan Sony  Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori
dimana orang harus  belajar dari kegagalan ini mulai
diformulasikan di Jepang dengan nama  shippaigaku (ilmu kegagalan).
Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang  ini

7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk  ke densha (kereta
listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun  
dewasa sedang membaca buku atau koran.
Tidak peduli duduk atau berdiri,  banyak yang memanfaatkan waktu di densha
untuk membaca. Banyak
penerbit  yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum  sekolah
baik SD, SMP maupun SMA.
Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb  disajikan dengan menarik yang
membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.  Saya pernah membahas
masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya  baca
orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses  penerjemahan
buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon  kabarnya legenda penerjemahan
buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684,  seiring dibangunnya institut
penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman  modern.
Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia  dalam
beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. KERJASAMA  KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang  terlalu
bersifat individualistik.
Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya  ditujukan untuk tim atau kelompok
tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia  kerja, kondisi kampus
dengan lab penelitiannya juga
seperti itu,  mengerjakan
tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja  dalam
kelompok mungkin salah satu
kekuatan terbesar orang Jepang. Ada  anekdot bahwa "1 orang professor
Jepang akan kalah dengan satu
orang  professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan  bisa
mengalahkan 10 orang
professor Jepang yang berkelompok" . Musyawarah  mufakat atau sering disebut
dengan "rin-gi" adalah ritual dalam kelompok.  Keputusan strategis harus dibicarakan dalam
"rin-gi".

9.  MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya  yang
paling gede sempat
merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus  membawa 3 tas besar
berisi pakaian ganti, bento
(bungkusan makan siang),  sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar
minuman yang
menggantung  di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa
perlengkapan  sendiri, dan
bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA  dan masuk
bangku kuliah hampir
sebagian besar tidak meminta biaya kepada  orang tua. Teman-temen
seangkatan saya dulu di Saitama
University  mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan
sehari-hari.  Kalaupun
kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang itu nanti  mereka
kembalikan di bulan berikutnya.

10. JAGA  TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang  kehilangan
tradisi dan budayanya.
Budaya perempuan yang sudah menikah  untuk tidak bekerja masih ada dan
hidup sampai saat ini.
Budaya minta maaf  masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda
naik sepeda di  Jepang
dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak  malah
yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif  menghindari berkata "tidak" untuk
apabila mendapat tawaran dari orang lain.  Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang
Jepang karena "hai"  belum
tentu "ya" bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan  aset
penting di Jepang.

Persaingan keras karena masuknya beras  Thailand dan Amerika yang murah,
tidak menyurutkan langkah
pemerintah  Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang
dijadikan lahan  pertanian
mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa  insentif
lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian.  
Pertanian Jepang merupakan salah
satu yang tertinggi di  dunia.



__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book
  1. 0 comments: Responses to “ [lowongan] Money Game Merusak Mental Bangsa ”

ILKI: Informasi Lowongan Kerja Indonesia berisi pilihan lowongan kerja terbaru di berbagai bidang keahlian di Indonesia.
[English] ILKI contains a fine selection of the latest job vacancies in Indonesia.

Berlangganan?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:
Find entries :